Jalinan Koordinasi Rencana Umum Nasional Keselamatan (RUNK) Belum Berjalan Sebagaimana Mestinya

0

Cirebon, Plt Ketua Himpunan Profesi Pengemudi Indonesia (HPPI), Eddy Suzendi,. SH menuturkan, kecelakaan demi kecelakaan terus menerus silih berganti dari mulai truck, kontainer, bus dan lain-lain. Tentunya, sampai kapan fenomena ini akan terus dibiarkan, Rencana Umum Nasional Keselamatan (RUNK) sudah mengamanahkan tentang management jalan yang berkeselamatan, kendaraan yang berkeselamatan dan manusia yang berkeselamatan.

 

“Begitu pula pra dan pasca penanganan kecelakaan semua stake holder memiliki tugas sesuai dengan tupoksinya. Akan tetapi sudah berhasilkah? Jawabanya jauh dari berhasil karena apa,” kata Eddy Suzendi dalam keterangan tertulisnya, Minggu (27/2/2022).

 

“Semua berjalan sendiri-sendiri tanpa jalinan koordinasi RUNK hanya selogan belaka, yang akhirnya semua saling menyalahkan penanggung jawab jalan, penanggung jawab kendaraan dan penanggung jawab manusia yang ada di dalam RUNK tersebut,” tambah Eddy Suzendi.

 

Padahal, lanjut dia, permasalahan terbesar ada di jalinan Koordinasi. Maka, harusnya secara bersama-sama memikirkan apa jalan keluar untuk mengatasi Road Safety ini.

 

Menurutnya, Indonesia memiliki kultur budaya dan ekonomi masyarakatnya berbeda dengan di Eropa. Dimana decade of action Road Safety dikumandangkan yang di deklarasikan oleh PBB.

 

“Jadi langkah-langkah yang ditempuh harus menggunakan konsep spesifik disesuaikan dengan kondisi di Indonesia. RUNK kita dengan 5 pilarnya harus secara komprehensif dibahas bersama,” terangnya.

 

Eddy Suzendi menjelaskan, didalam 5 pilar ada management jalan yang berkeselamatan Bapenas, ada jalan yang berkeselamatan PU Bina Marga, kendaraan yang berkeselamatan Perhubungan, manusia yang berkeselamatan Polri, dan begitu pula pra dan pasca penanganan kecelakaan Kesehatan.

 

Eddy Suzendi mengungkapkan, setiap kejadian demi kejadian 80 persen disebabkan oleh manusia diantaranya yakni, manusia yang tidak paham tentang kendaraan, manusia yang tidak paham tentang jalan, manusia yang lelah, lalai, mabuk, dan lain-lain.

 

“Setiap kejadian kecelakaan lalu lintas 80 persen penyebabnya manusia, kenapa tidak pernah berupaya agar manusia ini dibuat paham tentang kendaraan, paham tentang jalan juga paham tentang tanggap darurat dan persiapan sebelum melakukan perjalanan,” terangnya.

 

READ  Waspada Virus Corona, Calon TKI di Majalengka Diberikan Himbauan

Menurutnya, manusia adalah ujung tombak dari keselamatan. Maka, setiap kejadian kecelakaan seharusnya dijadikan sebagai pelajaran.

 

“Dikaji dan di analisis kenapa sopir bodoh? Ini salah siapa? Kenapa perusahaan angkutan tidak menerapkan sistem management keselamatan perusahaan angkutan ini salah siapa,” lanjut Eddy Suzendi.

 

“Kenapa kendaraan bisa remnya blong ini salah siapa? Pengemudi atau pengusaha? Kenapa kendaraan bisa odol ini salah siapa? Yang merasa bersalah jangan menuding orang lain lakukan pembenahan dan berkoordinasi dengan stake holder yang ada di RUNK untuk membahas bersama,” sambungnya.

 

Dirinya menjelaskan, kaitan dengan peningkatan kecakapan para pengemudi sebagai operator kendaraan agar pengemudi paham baik tentang jalan yang berkeselamatan, kendaraan yang berkeselamatan. Hal ini termasuk dirinya sebagai manusia yang berkeselamatan.

 

“Bapenas anggarkan keuangan untuk meningkatkan profesionalisme pengemudi, jangan hanya menganggarkan management jalan. Semata pelakunya juga harus difikirkan agar bisa turut serta merawat jalan, PU Bina Marga buat kajian, buku panduan tentang Navigasi Darat, peta jalan titik black spot, tikungan kelokan turunan dan lain-lain sebagai buku panduan pengemudi dijalan,” tegasnya.

 

“Perhubungan persiapkan materi tentang kendaraan dan tata cara pengoperasian, daya angkut kendaraan, persyatan teknis laik jalan dan lain-lain. Polri mengkoordinasikan semua stake holder dengan tanggung jawabnya sebagai pembina para pengemudi, jangan hanya sekedar prosedur uji SIM semata tanpa memberikan edukasi. Sebagaimana amanah dari Perpol RI Nomor 5 tahun Tentang  Penerbitan dan Penandaan SIM, dimana sebelum memperoleh SIM wajib mengikuti pendidikan dan latihan melalui lembaga pendidikan dan latihan yang terakreditasi,” tambahnya.

 

“Dimana para pengemudi memiliki tanggung jawab untuk keselamatan baik keselamatan dirinya maupun keselamatan orang lain. Kepolisian secara bersama-sama mengajak semua stake holder bahu membahu turut serta memberikan edukasi kepada para pengemudi,” lanjut Eddy Suzendi.

 

“Kementerian Kesehatan juga harus turut serta memberikan edukasi kepada para pengemudi tentang tanggap darurat, memberikan edukasi tentang bahaya benturan dan lain-lain,” imbuhnya.

 

Jadi intinya, lanjut dia, pengemudi adalah ujung tombak dari keselamatan semua harus turut berfikir bagaimana agar pengemudi memiliki tanggung jawab kerja disiplin, beretika, berwawasan, memiliki keahlian, memiliki kompetensi sesuai dengan jenjang kendaraan yang dioperasikannya.

READ  Kakanwil Jatim Sidak Kanim Madiun demi Persiapan WBK

 

“Dan pengemudi memiliki nilai jual mampu menolak kepada pengusaha angkutan atau bosnya, kalau dipaksa mengoperasikan kendaraan yang tidak laik jalan dan muatan yang overload karena ini membahayakan dijalan untuk keselamatan dirinya maupun orang lain yang berada dijalan raya,” pungkasnya.

 

Masih menurut dia, jika ini berjalan dengan baik Road Safety akan terwujud dengan mengesampingkan ego dan kepentingan. Tentunya semua memiliki tanggung jawab untuk keselamatan umat manusia.

 

“Dan kita harus ingat bahwa keluarga anak istri kita pun tidak luput menggunakan jalan raya, menggunakan angkutan umum sebagai sarana transportasi. Sementara kita tidak pernah tahu, dan tidak pernah ingin tahu kalau para pengemudi yang ada dijalan raya tersebut tidak pernah mengikuti pendidikan dan memiliki kompetensi, mereka dibiarkan bodoh dan dijadikan kambing hitam semata untuk kepentingan para pengusaha angkutan jika terjadi kecalakaan karena didalam UU RI tahun 2009 Tentang LLAJ pasal 310 tentang kelalaian hingga menghilangkan nyawa pengemudi dikenakan hukum kurungan 6 tahun,” ujarnya.

 

Jadi dengan demikian, kata dia, para algojo dijalan dibiarkan berkeliaran sementara kejadian demi kejadian terus berlangsung korban bergeletakan, mayat terbaring dijalan raya fenomena ini kerap terjadi padahal semua tahu penyebabnya adalah rem blong dan kelalaian manusia. Hal ini seharusnya ini tidak boleh terjadi karena jika kendaraan dinyatakan rem blong ini jelas kesalahan ada pada perusahaan yang tidak menerapkan sistem management keselamatan perusahaan angkutan umum.

 

“Dan pengemudi yang dibiarkan Bodoh, kenapa saya katakan bodoh rem tidak akan sekonyong konyong/mendadak blong, semua ada gejalanya tanda-tanda rem tidak bekerja secara optimal,” ucapnya.

 

“Pertama, adanya bunyi-bunyian. Kedua, rem diinjak keras. Ketiga, tidak pakem. Keempat, ada efek buang, kekiri atau kekanan. Ini adalah indikasi adanya masalah pada sistem Rem seharusnya pengemudi paham. Selain itu, pengemudi harus tanggap dan peka ini pentingnya wawasan tentang Devensif Driving dan pengetahuan tentang kendaraan,” sambung Eddy Suzendi.

READ  Jika Virus Corona Berbentuk Seperti Gajah, Casmudi: Saya Tidak Takut

 

“Ketika menghadapi jalan menurun pengemudi yang profesional tidak akan menggunakan gigi transmisi tinggi, ketika menghadapi jalan menurun sama dengan ketika menghadapi jalan yang menanjak gigi transmisi ada diposisi gigi rendah. Karena untuk menghindari rem diinjak terus menerus sehingga overheat (panas tinggi) di ruang rem dan terjadinya brake fading (rem blong),” lanjut dia.

 

Jadi, ujar dia, pengemudi dibiarkan bodoh adalah penyebab dari semua terjadinya kecelakaan 80 persen adalah penyebabnya manusia. Diantaranya, manusia yang tidak paham tentang jalan, manusia yang tidak paham tentang kendaraan, dan manusia yang tidak memahami tentang dirinya sebagai manusia yang berkeselamatan yang memiliki tanggung jawab terhadap dirinya maupun keselamatan orang lain.

 

“Akankah fenomena ini dibiarkan terus menerus? Sementara kecelakaan akibat kelalaian manusia terus terjadi. Semoga semua berfikir secara sehat, coba kita bayangkan yang terkapar, tergeletak dijalan akibat kecelakaan itu adalah sanak keluarga kita? Rasa sedih dan duka tidak cukup sehari mungkin bisa berbulan bulan bahkan bertahun-tahun karena di tinggal oleh orang yang dicintainya, nauzubilah mindzalik semoga transportasi kita kedepan bisa lebih baik lagi Aamiin Yarobal alamin,” kata Eddy Suzendi sambil berdoa.

Leave A Reply

Your email address will not be published.